E K O N O M I K R E A T I F
“Penggunaan Material Payung Bekas sebagai Kanopi”
Dosen
Ir.
Ramos Pasaribu, MT
Disusun Oleh
Andri
Wenang ( 1454050003 )
Isanius
Kogoya ( 1454050006 )
Cristhover
( 1454050020 )
Surya
Peri Julian Harahap (1454050021)
Axel
Jeremia ( 1154050004 )
PROGRAM STUDI
ARSITEKTUR
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS
KRISTEN INDONESIA
2018
DAFTAR
ISI
COVER
......................................................................................................................................
DAFTAR ISI
..............................................................................................................................
KATA PENGATAR
...................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
...........................................................................................................
1
1.1
Latar Belakang...........................................................................................................
1
1.2
Bentuk Objek Yang
Diusulkan..................................................................................
1
1.3
Sasaran Pengguna .....................................................................................................
2
1.4
Manfaat Dan Tujuan
.................................................................................................
2
1.5
Proses Produksi dan Pelaksanaan .............................................................................
2
1.6
Rencana Anggaran dan Biaya
...................................................................................
2
BAB II TINJAUAN TEORI
.......................................................................................................
3
2.1 Ekonomi Kreatif
.........................................................................................................
3
2.1.1
Pengertian Ekonomi Kreatif
........................................................................... 3
2.1.2
Perkembangan Ekonomi Kreatif Di Indonesia
............................................... 4
2.1.3
Sub Sektor Industri Ekonomi Kreatif
............................................................. 5
2.2. Kanopi .....................................................................................................................
9
2.3 Payung
.....................................................................................................................
9
2.4 Pedestrian
(Trotoar)
................................................................................................
11
2.4.1 Pengertian
......................................................................................................
11
2.4.2. Penempatan Trotoar
.......................................................................................
11
2.4.3. Lebar Trotoar
.................................................................................................
12
BAB III KONSEP
3.1
Konsep
............................................................................................................................
13
3.1.1
Bentuk
..........................................................................................................................
13
3.1.2
Warna
...........................................................................................................................
15
BAB
IV KESIMPULAN
......................................................................................................
16
Kesimpulan
...........................................................................................................................
16
Lampiran
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas Karunia
dan kesempatan yang diberikan-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan kerja
praktek dan sekaligus menyelesaikan makalah Kerja Praktek ini, dimana merupakan
salah satu persyaratan akademik yang harus kami tempuh sebagai mahasiswa
Fakultas Teknik Arsitektur di Universitas Kristen Indonesia.
Makalah Ekonomi Kreatif ini disusun berdasarkan hasil
pengamatan di kampus UKI mengenai apa saja permasalahan yang ada kemudian
membuat suatu solusi desain pada akhirnya. Dari solusi desain yang di dapat
kemudian material yang digunakan memakai material – material bekas yang sudah
tidak terpakai akan tetapi masih dapat digunakan kembali menjadi barang yang
mempunyai nilai guna.
Di dalam menyusun makalah ini kami banyak mendapatkan
bantuan baik moril maupun materil, dari teman – teman angakatan 2014 dan Pak
Fadil untuk itu dalam kesempatan ini izinkan kami untuk mengucapkan
terima-kasih banyak kepada keluarga yang tercinta yang telah memberikan doa dan
semangat yang tiada henti serta materil dalam mendukung penulis selama kerja
praktek.
Dukungan dari pihak berikut ini yang telah memberikan
bimbingan maupun bantuan, maka dari itu kami mengucapkan terima-kasih banyak
kepada :
1.
Bapak Ramos Pasaribu ST, MT selaku dosen pembimbing kerja praktek.
2.
Bapak Fadilah
3.
Angkatan 2014.
Jakarta 22 Januari 2018
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Saat ini pendestrian pejalan kaki di Jakarta
sangatlah jarang kita temui yang dilengkapi dengan fasilitas yang nyaman yang terhindar
dari panas dan hujan. Salah satu fasilitas pendestrian yang akan kita desain
adalah sebuah canopy.
Canopy akan kami desain untuk pendestrian
depan FT UKI. Namun, konsep ini juga dapat dilakukan dalam bentuk sederhana,
salah satunya adalah penggunaan material Payung bekas, Ban Bekas Dan botol
Bekas sebagai alat peneduh yang unik. Selain bertujuan untuk meneduhkan diri
dari hujan maupun panas, material payung bekas yang kami gunakan membuat
suasanan yang baru pada Pendestrian tersebut. Maka dari itu dalam paper ini, Kita
akan menjelaskan satu elemen yang akan digunakan untuk membuat fasilitas canopy
di pendestrian depan FT UKI menggunakan Material Payung Bekas, Botol Bekas dan
Ban Bekas.
Kita memilih botol plastik bekas karena di
kota saat ini, botol plastik merupakan sampah yang paling banyak dan juga
merupakan material yang sulit untuk diurai oleh alam. Oleh karena itu, demi
mengurangi sampah botol plastik yang tidak baik untuk alam, penulis akan
membuat botol plastik yang biasanya langsung dibuang ketika sudah selesai
diminum menjadi lebih berguna, Juga Kita memilih payung bekas karna salah satu
anggota kami mempunyai payung bekas yang nantinya akan digunakan untuk membuat
canopy berwarna ini DanKita Memilih Ban Bekas Karna Kita Tahu bahwa Material
ini sering dibuang secara Cuma-Cuma dibengkel-bengkel maupun dipinggir jalan.
Caranya agar payung, Ban dan botol bekas ini menjadi
lebih berguna adalah membuat sebuah canopy yang unik di sepanjang jalan
pendestrian depan FT UKI.
1.2.Bentuk Objek Yang
Diusulkan
Objek Menggunakan Payung Bekas Yang
Berwarna warni yang lalu difungsikan sebagaimana fungsinya namun dengan ide
desain yang berbeda yang dapat menarik perhatian orang sekitar dan juga dapat
difungsikan dengan cara yang unik.
1.3.Sasaran Pengguna
-
Dosen dan Staff
UKI
-
Mahasiswa UKI
-
Warga sekitar UKI
1.4.Manfaat Dan Tujuan
Manfaat dan tujuan dari objek studi
ekonomi kreatif ini guna untuk memenuhi kebutuhan dan kenyamanan orang berjalan
kaki di pedestrian depan FT UKI dari panas dan hujan.
1.5. Proses Produksi
dan Pelaksanaan
Exsplorasi
teknologi : material (material sisa/daur ulang/sampah/yang tak terpakai).
·
-Bagaimana proses
material didapat?
Mendapatkannya
dari tempat barang bekas atau rumah kami yang mempunyai payung bekas
·
Bagaimana
sifat/karakter material?
Tahan
Air Dan Tahan Panas matahari
·
Bagaimana
penampilan material sesuai idea?
Bisa
Menarik, Nyaman,
·
Bagaimana
konstruksi/pemasangannya?
Payung
bekas berwarna warni dipreteli gagangnya, lalu ujung payung atas diikat dengan
tali ke gagang payung, lalu gagang payung tersebut diikat ke Pipa yang lalu
ditanamkan ke Ban bekas hingga Pipa tersebut masuk kedalam tanah.
·
Bagaimana
pekerjaaan finishingnya?
Diberi
sambungan antara payung dengan botol akua yang telah dibelah dua sebagai talang
air.
·
Bagaimana Metode
pelaksanaan/pembuatannya? (tenaga, usaha lain, material lainnya?).
Metode
pembuatan dari payung bekas yang di buat menjadi fungsi yang bernilai lebih.
·
Tempat Pelaksanaan
?
Tempat
Pelaksanaannya Akan ditempatkan dipedestrian depan FT UKI (Mulai Dari Pendestrian
Tempat Parkir motor FT UKI) hingga pedestrian menuju Bangunan Lobby FT UKI
1.6.Rencana Anggaran
dan Biaya
Studi
rencana anggaran biaya dan Nilai objektif Pasar.
·
10.000/payung
bekas, 5000/Ban Bekas, 1000/botol akua, dan 2000/gulungan tali.
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Ekonomi Kreatif
2.1.1 Pengertian Ekonomi Kreatif
Ekonomi
kreatif adalah Mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan
ide dan stock of knowledge dari Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai faktor
produksi utama dalam kegiatan ekonominya. Struktur perekonomian dunia mengalami
transformasi dengan cepat seiring dengan pertumbuhan ekonomi, dari yang tadinya
berbasis Sumber Daya Alam (SDA) sekarang menjadi berbasis SDM, dari era
pertanian ke era industri dan informasi. Alvin Toffler (1980) dalam teorinya melakukan
pembagian gelombang peradaban ekonomi kedalam tiga gelombang. Gelombang pertama
adalah gelombang ekonomi pertanian. Kedua, gelombang ekonomi industri. Ketiga
adalah gelombang ekonomi informasi. Kemudian diprediksikan gelombang keempat
yang merupakan gelombang ekonomi
kreatif dengan berorientasi pada ide dan gagasan kreatif.
Menurut ahli
ekonomi Paul Romer (1993), ide adalah barang ekonomi yang sangat penting, lebih
penting dari objek yang ditekankan di kebanyakan model-model ekonomi. Di dunia
dengan keterbatasan fisik ini, adanya penemuan ide-ide besar bersamaan dengan
penemuan jutaan ide-ide kecil-lah yang membuat ekonomi tetap tumbuh. Ide adalah
instruksi yang membuat kita mengkombinasikan sumber daya fisik yang
penyusunannya terbatas menjadi lebih bernilai. Romer juga berpendapat bahwa
suatu negara miskin karena masyarakatnya tidak mempunyai akses pada ide yang
digunakan dalam perindustrian nasional untuk menghasilkan nilai ekonomi.
Howkins
(2001) dalam bukunya The Creative Economy menemukan kehadiran gelombang ekonomi kreatif setelah menyadari pertama kali
pada tahun 1996 ekspor karya hak cipta Amerika Serikat mempunyai nilai
penjualan sebesar US$ 60,18 miliar yang jauh melampaui ekspor sektor lainnya
seperti otomotif, pertanian, dan pesawat. Menurut Howkins ekonomi baru telah
muncul seputar industri kreatif yang dikendalikan oleh hukum
kekayaan intelektual seperti paten, hak cipta, merek, royalti dan desain.
Ekonomi kreatif merupakan pengembangan konsep berdasarkan aset kreatif yang
berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi. (Dos Santos, 2007).
Konsep Ekonomi Kreatif ini semakin mendapat perhatian
utama di banyak negara karena ternyata dapat memberikan kontribusi nyata
terhadap perekonomian. Di Indonesia, gaung Ekonomi Kreatif mulai terdengar saat pemerintah mencari cara
untuk meningkatkan daya saing produk nasional dalam menghadapi pasar global.
Pemerintah melalui Departemen Perdagangan yang bekerja sama dengan Departemen
Perindustrian dan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) serta
didukung oleh KADIN kemudian membentuk tim Indonesia Design Power 2006 2010 yang
bertujuan untuk menempatkan produk Indonesia menjadi produk yang dapat diterima
di pasar internasional namun tetap memiliki karakter nasional. Setelah
menyadari akan besarnya kontribusi ekonomi kreatif terhadap negara maka
pemerintah selanjutnya melakukan studi yang lebih intensif dan meluncurkan
cetak biru pengembangan ekonomi kreatif.
2.1.2. Perkembangan Ekonomi Kreatif Di Indonesia
Dimulai pada tahun 2006 di mana
Presiden Susilo Bambang Yudhoyonomenginstruksikan untuk mengembangkan
ekonomi kreatif di Indonesia. Proses pengembangan ini diwujudkan pertama
kali dengan pembentukan Indonesian Design Power oleh Departemen
Perdagangan untuk membantu pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia. Pada
tahun 2007 dilakukan peluncuran Studi Pemetaan Kontribusi Industri
Kreatif Indonesia 2007 padaTrade Expo Indonesia.
Pada tahun 2008, dilakukan
peluncuran Cetak Biru Pengembangan Ekonomi Kreatif
Indonesia 2025 dan Cetak Biru Pengembangan 14 Subsektor Industri
Kreatif Indonesia. Selain itu, dilakukan pencanangan tahun Indonesia
Kreatif2009. Untuk mewujudkan Indonesia Kreatif, tahun 2009
diadakan Pekan Produk Kreatif dan Pameran Ekonomi
Kreatif ysng berlangsung setiap tahunnya.
Alasan mengapa Indonesia perlu
mengembangkan ekonomi kreatif antara lain karena ekonomi kreatif berpotensi
besar dalam: Memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan; Menciptakan Iklim
bisnis yang positif; Membangun citra dan identitas bangsa; Mengembangkan
ekonomi berbasis kepada sumber daya yang terbarukan; Menciptakan inovasi dan
kreativitas yang merupakan keunggulan kompetitif suatu bangsa; Memberikan
dampak sosial yang positif.
Ada alasan lain mengapa indonesia
menggunakan sistem ekonomi kreatif Ternyata, tersimpan ribuan bahkan
jutaan potensi produk kreatif yang layak dikembangkan di Tanah Air. Tengok saja
potensi itu: sekitar 17.500 pulau, 400 suku bangsa, lebih dari 740 etnis (di
Papua saja 270 kelompok etnis), budaya, bahasa, agama dan kondisi
sosial-ekonomi.
Nilai-nilai budaya luhur (cultural
heritage) yang kental terwarisi, seperti teknologi tinggi pembangunan
Borobudur, batik, songket, wayang, pencak silat, dan seni budaya lain, menjadi
aset bangsa. Tercatat pula, tujuh lokasi di Indonesia yang dijadikan situs
pusaka dunia (world heritage site).
Belum lagi tingkat keragaman hayati (biodiversity)
yang sukar ditandingi. Begitu banyak spesies yang khas dan tak dapat dijumpai
di wilayah lain di dunia, seperti komodo, orang utan, cendrawasih. Tak
ketinggalan, hasil budidaya rempah-rempah, seperti cengkeh, lada, pala, jahe,
kayumanis, dan kunyit.
Semua itu bila diarahkan menjadi industri
ekonomi kreatif, tentu membuahkan hasil luar biasa. Apalagi, era saat ini
mengarah pada ekonomi kreatif, setelah era gelombang pertanian, gelombang
industri, dan gelombang informasi, seperti teori Alvin Toffler.
2.1.3
Sub Sektor Industri Ekonomi Kreatif
Industri
kreatif dapat dikelompokkan menjadi 14 subsektor. Menurut Departemen
Perdagangan Republik Indonesia dalam buku Pengembangan Industri Kreatif Menuju
Visi Ekonomi Kreatif 2025, ke 14 subsektor industri kreatif Indonesia adalah :
1. Periklanan (advertising)
Kegiatan
kreatif yang berkaitan jasa periklanan (komunikasi satu arah dengan menggunakan
medium tertentu), yang meliputi proses kreasi, produksi dan distribusi dari
iklan yang dihasilkan, misalnya: perencanaan komunikasi iklan, iklan luar
ruang, produksi material iklan, promosi, kampanye relasi publik, tampilan iklan
di media cetak (surat kabar, majalah) dan elektronik (televisi dan radio),
pemasangan berbagai poster dan gambar, penyebaran selebaran, pamflet, edaran,
brosur dan reklame sejenis, distribusi dan delivery advertising
materials atausamples, serta penyewaan kolom untuk iklan
2. Arsitektur
Definisi
jasa arsitektur menurut Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2005
adalah jasa konsultasi arsitek, yaitu mencakup usaha seperti: desain bangunan,
pengawasan konstruksi, perencanaan kota, dan sebagainya. Selain itu sub-sektor
Arsitektur Yaitu kegiatan kreatif yang berkaitan dengan desain bangunan secara
menyeluruh baik dari level makro (town planning, urban design, landscape
architecture) sampai level mikro (detail konstruksi). Misalnya arsitektur
taman, perencanaan kota, perencanaan biaya konstruksi, konservasi bangunan
warisan, pengawasan konstruksi, perencanaan kota, konsultasi kegiatan teknik
dan rekayasa seperti bangunan sipil dan rekayasa mekanika dan elektrikal.
3. Pasar Barang Seni
Yaitu
kegiatan kreatif yang berkaitan dengan perdagangan barang-barang asli, unik dan
langka serta memiliki nilai estetika seni yang tinggi melalui lelang, galeri,
toko, pasar swalayan, pasar tradisional dan internet, meliputi barang-barang
musik, percetakan, kerajinan, automobile, dan film.
4. Kerajinan (craft)
Industri
Kreatif subsektor kerajinan adalah kegiatan kreatif yang berkaitan dengan
kreasi, produksi dan distribusi produk yang dibuat dan dihasilkan oleh tenaga
pengrajin yang berawal dari desain awal sampai dengan proses penyelesaian
produknya, antara lain meliputi barang kerajinan yang terbuat dari: batu
berharga, serat alam maupun buatan, kulit, rotan, bambu, kayu, logam (emas,
perak, tembaga, perunggu, besi) kayu, kaca, porselin, kain, marmer, tanah liat,
dan kapur. Berdasarkan bahan baku (raw material), produk kerajinan
dikategorikan menjadi:
1. Ceramic (seperti tanah liat, erathen
ware, pottery, stoneware, porcelain)
2. Logam (seperti emas, perak, perunggu, besi,
tembaga)
3. Natural fiber, serat alam (bambu, akar-akaran, rotan)
4. Batu-batuan (seperti batu mulia, semi precious stone, jade)
5. Desain
3. Natural fiber, serat alam (bambu, akar-akaran, rotan)
4. Batu-batuan (seperti batu mulia, semi precious stone, jade)
5. Desain
Yaitu
kegiatan kreatif yang terkait dengan kreasi desain grafis, desain interior,
desain produk, desain industri, konsultasi identitas perusahaan dan jasa riset
pemasaran serta produksi kemasan dan jasa pengepakan. Contohnya : kerajinan
perak
6. Fesyen (fashion)
Industri
Kreatif Subsektor fesyen/mode adalah kegiatan kreatif yang terkait dengan
kreasi desain pakaian, desain alas kaki, dan desain aksesoris mode lainnya,
produksi pakaian mode dan aksesorisnya, konsultansi lini produk fesyen, serta
distribusi produk fesyen.
7. Video, Film dan
Fotografi
Industri Kreatif Subsektor film, video, dan fotografi
adalah kegiatan kreatif yang terkait dengan kreasi, produksi video, film, dan
jasa fotografi, serta distribusi rekaman video, film dan hasil fotografi. Termasuk
di dalamnya penulisan skrip, dubbing film, sinematografi,
sinetron, dan eksibisi film.
8. Permainan Interaktif (game)
Industri
Kreatif sub sektor permainan interaktif adalah kegiatan kreatif yang berkaitan
dengan kreasi, produksi, dan distribusi permainan komputer dan video yang
bersifat hiburan, ketangkasan, dan edukasi. Sub sektor permainan interaktif
bukan didominasi sebagai hiburan semata-mata tetapi juga sebagai alat bantu
pembelajaran atau edukasi. Menurut beberapa sumber, industri permainan
interaktif didefinisikan sebagai permainan yang memiliki kriteria sebagai
berikut:
a. Berbasis elektronik baik berupa
aplikasi software pada komputer (online maupun stand alone), console(Playstation,
XBOX, Nitendo dll), mobile handset dan arcade.
b. Bersifat menyenangkan (fun)
dan memiliki unsur kompetisi (competition)
c. Memberikan feedback/interaksi
kepada pemain, baik antar pemain atau pemain dengan alat (device)
d. Memiliki tujuan atau dapat
membawa satu atau lebih konten atau muatan. Pesan yang disampaikan bervariasi
misalnya unsur edukasi, entertainment, promosi produk (advertisement) sampai
kepada pesan yang destruktif.
9. Musik
Industri
Kreatif sub sektor musik adalah kegiatan kreatif yang berkaitan dengan
kreasi/komposisi, pertunjukan musik, reproduksi, dan distribusi dari rekaman
suara. Seiring dengan perkembangan industri musik ini yang tumbuh sedemikian
pesatnya, maka Klasifikasi Baku Lapangan Indonesia 2005 (KBLI) perlu dikaji
ulang, yaitu terkait dengan pemisahan lapangan usaha distribusi reproduksi
media rekaman, manajemen-representasi-promosi (agensi) musik, jasa komposer,
jasa pencipta lagu dan jasa penyanyi menjadi suatu kelompok lapangan usaha
sendiri.
10. Seni Pertunjukan (showbiz)
Industri
Kreatif kelompok seni pertunjukan meliputi kegiatan kreatif yang berkaitan
dengan usaha yang berkaitan dengan pengembangan konten, produksi pertunjukan,
pertunjukan balet, tarian tradisional, tarian kontemporer, drama,
musik-tradisional, musik-teater, opera, termasuk tur musik etnik, desain dan pembuatan
busana pertunjukan, tata panggung, dan tata pencahayaan.
11. Penerbitan dan Percetakan
Industri
Kreatif subsektor penerbitan dan percetakan meliputi kegiatan kreatif yang
terkait dengan penulisan konten dan penerbitan buku, jurnal, koran, majalah, tabloid,
dan konten digital serta kegiatan kantor berita.
12. Layanan Komputer dan Piranti Lunak (software)
Industri
Kreatif sub sektor layanan komputer dan piranti lunak meliputi kegiatan kreatif
yang terkait dengan pengembangan teknologi informasi termasuk jasa layanan
komputer, pengembangan piranti lunak, integrasi sistem, desain dan analisis
sistem, desain arsitektur piranti lunak, desain prasarana piranti lunak dan
piranti keras, serta desain portal.
13. Televisi & Radio (broadcasting)
Industri Kreatif
kelompok televisi dan radio meliputi kegiatan kreatif yang berkaitan dengan
usaha kreasi, produksi dan pengemasan, penyiaran, dan transmisi televisi dan
radio.
14. Riset dan Pengembangan (R&D)
Industri
Kreatif subsektor riset dan pengembangan meliputi kegiatan kreatif yang terkait
dengan usaha inovatif yang menawarkan penemuan ilmu dan teknologi dan penerapan
ilmu dan pengetahuan tersebut untuk perbaikan produk dan kreasi produk baru,
proses baru, material baru, alat baru, metode baru, dan teknologi baru yang
dapat memenuhi kebutuhan pasar. Akan tetapi, definisi riset dan pengembangan
tersebut menurut masukan dari beberapa sumber dipandang belum cukup
merefleksikan aktivitas riset dan pengembangan yang sesungguhnya. Definisi dari
komoditi riset dan pengembangan mempunyai landasan regulasi sendiri yaitu UU
No. 18 tahun 2002. Definisi riset dan pengembangan menurut UU No. 18/2002
tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan
dan Teknologi adalah: Penelitian adalah kegiatan yang dilakukan menurut kaidah
dan metode ilmiah secara sistematis untuk memperoleh informasi, data, dan
keterangan yang berkaitan dengan pemahaman dan pembuktian kebenaran atau
ketidakbenaran suatu asumsi dan/atau hipotesis di bidang ilmu pengetahuan dan
teknologi serta menarik kesimpulan ilmiah bagi keperluan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Pengembangan adalah kegiatan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang bertujuan memanfaatkan kaidah dan teori ilmu pengetahuan yang
telah terbukti kebenarannya untuk meningkatkan fungsi, manfaat, dan aplikasi
ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada, atau menghasilkan teknologi
baru. Dalam hal ini, perlu untuk melakukan penyamaan persepsi mengenai definisi
ini.
2.2
Kanopi
Kanopi bila dilihat dalam pengertian menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
berarti tirai atau langit-langit dari terpal, kain, logam, dsb pada teras
terdapat — bertiang sebagai pemisah halaman dengan bagian dalam rumah.
Dalam dunia biologi, istilah kanopi bahkan sangat dikenal bagi siapapun
yang punya hobi keluar masuk hutan. Di hutan hujan tropis, kebanyakan kehidupan
tumbuhan dan hewan tidak ditemukan di permukaan tanah (forest floor), tapi bisa
ditemukan pada dunia dedaunan yang dikenal dengan nama kanopi. Kanopi yang bisa
berada pada ketinggian 100 kaki (30 meter) dari atas tanah terbentuk oleh
cabang-cabang dan deedaunan pohon-pohon hutan yang saling tumpang tindih.
Kanopi ini jugalah yang membuat cahaya matahari sulit menembus hutan hujan
tropis, yang selalu terjaga kelembabannya.
Pada abat pertengahan
pun, kata canope (Perancis) dan canopeum (Latin) erat kaitannya dengan tempat
tidur bertiang empat dengan tirai atau kain yang menutupi bagian atas serta
samping. Selain berfungsi untuk memberi kehangatan, tirai-tirai ini juga berguna
untuk menjaga dari angin, melindungi dari benda yang jatuh dari atas, bahkan
berfungsi untuk memberikan privasi bagi penggunanya.
Dengan beberapa pengertian tersebut, jelaslah bahwa istilah kanopi yang
digunakan dalam arsitektur saat ini merupakan sejenis atap untuk melindungi
bagian luar rumah dari panas matahari dan terpaan hujan. Kanopi dalam
perkembangannya kini marak digunakan pada bagian garasi mobil dan balkon rumah,
kantor dan bangunan lainnya.
Kehadiran kanopi selain untuk fungsi melindungi, juga menjadi bagian tak
terpisahkan dari keindahan desain sebuah bangunan. Kini beragam model dan jenis
kanopi sudah bisa ditemukan. Bahan pembuat kanopi pun mulai bervariasi,
sehingga mudah dipilih sesuai selera dan kebutuhan seperti bahan genting, bahan
sirap (kayu), vinil, polikarbonat, kain, plastik, dak beton, seng, dan fiber
semen.
2.3 Payung
Payung adalah suatu benda pegang yang digunakan untuk
mencegah hujan mengguyur tubuh seseorang. Juga digunakan untuk menciptakan bayang-bayang dan mencegah terpaparnya orang oleh sinar
matahari. Payung yang digunakan untuk menahan
cahaya matahari disebut parasol.
Payung
atau umbrella dalam bahasa Inggris berasal
dari bahasa latin "umbra", yang
berarti bayang-bayang. Saat ditemukan pada 4 ribu tahun
lalu, awalnya payung kuno didesain khusus hanya untuk melindungi sang pemakai
dari terik panas matahari. Sampai akhirnya bangsa China berhasil
membuat payung yang berfungsi juga sebagai pelindung terhadap hujan. Mereka
berhasil memanfaatkan lilin dan lak sebagai pelapis kertas agar
payung itu antiair.
Pada abad ke-16,
keberadaan payung menjadi populer terutama di negara-negara Eropa Utara yang
memang kerap sekali turun hujan. Semula payung hanya dianggap sebagai aksesoris
kaum wanita. Lalu seorang petualang dan penulis Persia,
Jonas Hanway (1712 - 1786), dengan percaya diri sering membawa payung di depan
publik, sehingga menggoda keberadaan payung untuk dipakai juga oleh pria.
Begitu populernya payung sehingga para pria di Inggris menyebut
payung itu sebagai "teman jalan".
Gambar Bagian bagian dari payung
Payung-payung
generasi awal di Eropa dibuat dari kayu atau tulang ikan paus dan
ditutup kain kanvas yang
diberi minyak. Sebagai penarik diberi sentuhan seni dengan gambar warna-warni
dan gagang yang melengkung terbuat dari kayu keras, macam kayu eboni, dan sebagainya.
Sampai akhirnya pada tahun 1852, Samuel Fox menemukan rangka besi guna
menyangga kain payung. Sejak saat itu selanjutnya teknik desain payung lebih
terfokus pada cara bagaimana menemukan teknologi menutup atau melipat payung
itu agar lebih praktis saat dibawa.
2.4
Pedestrian (Trotoar)
2.4.1
Pengertian
Trotoar adalah jalur pejalan kaki yang umumnya sejajar dengan jalan dan
lebih tinggi dari permukaan perkerasan jalan untuk menjamin keamanan pejalan kaki yang bersangkutan. Menurut
keputusan Direktur Jenderal Bina Marga No.76/KPTS/Db/1999 tanggal 20 Desember
1999 yang dimaksud dengan trotoar adalah bagian dari jalan raya yang khusus
disediakan untuk pejalan kaki yang terletak didaerah manfaat jalan, yang diberi
lapisan permukaan dengan elevasi yang lebih tinggi dari permukaan perkerasan
jalan, dan pada umumnya sejajar dengan jalur lalu lintas kendaraan.
Para pejalan kaki berada
pada posisi yang lemah jika mereka bercampur dengan kendaraan, maka mereka akan
memperlambat arus lalu lintas. Oleh karena itu, salah satu tujuan utama dari
manajemen lalu lintas adalah berusaha untuk memisahkan pejalan kaki dari
arus kendaraan
bermotor,
tanpa menimbulkan gangguan-gangguan yang besar terhadap aksesibilitas dengan
pembangunan trotoar.
Perlu tidaknya trotoar dapat
diidentifikasikan oleh volume para pejalan kaki yang berjalan dijalan, tingkat
kecelakaan antara kendaraan dengan pejalan kaki dan pengaduan/permintaan
masyarakat.
2.4.2.Penempatan
Trotoar
Fasilitas pejalan kaki berupa trotoar ditempatkan di:
1.
Daerah perkotaan secara umum yang
tingkat kepadatan penduduknya tinggi
2.
Jalan yang memiliki rute angkutan
umum yang tetap
3.
Daerah yang memiliki aktivitas
kontinyu yang tinggi, seperti misalnya jalan-jalan di pasar dan pusat perkotaaan
4.
Lokasi yang memiliki
kebutuhan/permintaan yang tinggi dengan periode yang pendek, seperti misalnya
stasiun-stasiun bis dan kereta api, sekolah, rumah sakit, lapangan olah raga
5.
Lokasi yang mempunyai permintaan yang
tinggi untuk hari-hari tertentu, misalnya lapangan/gelanggang olah raga, masjid
Trotoar sedapat mungkin ditempatkan
pada sisi dalam saluran Drainase yang telah ditutup dengan pelat beton yang memenuhi syarat. Trotoar
pada perhentian Bus harus ditempatkan
berdampingan/sejajar dengan jalur Bus. Trotoar dapat ditempatkan di depan atau
di belakang halte.
2.4.3. Lebar
Trotoar
Sesuai
dengan penggunaan lahan, lebar minimun Trotoar yaitu :
No
|
Penggunaan
Lahan
|
Lebar
Minimum
(m) |
1
|
Perumahan
|
1,5
|
2
|
Perkantoran
|
2,0
|
3
|
Industri
|
2,0
|
4
|
Sekolah
|
2,0
|
5
|
Perumahan
|
2,0
|
6
|
Terminal/Stop Bus
|
2,0
|
7
|
Pertokoan/Perbelanjaan
|
2,0
|
8
|
Jembatan/Terowongan
|
1,0
|
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Konsep
Konsep yang dibuat sebagai Kanopi adalah konsep sustainable design, dengan menggunakan material utama payung bekas
menjadi sebuah Kanopi yang diterapkan pada Pedestrian di depan FT UKI untuk melindungi
dari panas sinar matahari dan hujan. Kanopi ini akan dibuat berjajar sepanjang
pedestrian Parkir Motor FT UKI Menuju Bangunan Lobby FT UKI.
Gambar. Tampak Atas
a.
Bentuk
Payung bekas dibuat Payung
bekas berwarna warni dipreteli gagangnya, lalu ujung payung atas diikat dengan
tali ke gagang payung, lalu gagang payung tersebut diikat ke Pipa Yang sudah
ditanamkan ke ban bekas hingga menyentuh tanah. Diberi sambungan antara payung
dengan botol aqua yang telah dibelah dua sebagai talang air. Metode pembuatan
dari payung bekas yang di buat menjadi fungsi yang bernilai lebih.
Gambar.
Perspektif
b. Warna
Pelangi
itu mempunyai filosofi yang bisa memberikan pelajaran bagi diri kita. Pelajaran
berharga tentang keberagaman dan kesatuan antara berbagai perbedaan. Pelangi
memiliki banyak warna hanya saja karena kita dari kecil sudah mendengarkan lagu
tentang pelangi yang mengungkapkan bahwa pelangi itu warnanya adalah merah,
kuning, hijau di langit yang biru. Begitulah kiranya warna pelangi yang sering
kita lihat. Pelangi nampak indah dengan beberapa warna yang dimilikinya.
Warna-warna itu tampak berpadu, bukan saling mengalahkan antar satu warna
dengan warna yang lain. Hal itu mengajarkan pada kita bahwa hidup ini harusnya
mau menerima berbagai perbedaan. Dengan perbedaan itulah malah hidup bisa
menjadi indah. Kita harus menerima berbagai keberagaman, dengan keberagaman itu
bisa dipadukan agar membentuk sebuah kebhinekaan yang nampak harmoni.
Kesimpulan nya warna
pelangi mengajarkan kita arti perbedaan dan keberagaman, begitu juga yang
terdapat di UKI dengan beragam ras agama dan budaya mahasiswa nya. Pelangi coba
mengajarkan kita arti toleransi dan saling menerima berbagai perbedaan.
Gambar. Potongan
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Mata kuliah Ekonomi Kreatif mengajarkan bagaimana mahasiswa dapat
menggunakan kembali barang yang tadi nya tidak terpakai menjadi barang yang
punya nilai guna. Pada permasalahan yang
ada di Kampus UKI, Cawang kami mencoba membuat
alternatif design Kanopi untuk sebuah Pedestrian dengan memikirkan bagaimana
agar pejalan kaki merasa nyaman, terhindar dari panas dan hujan. Design yang
dibuat pada kanopi dibuat semenarik mungkin agar pejalan kaki lebih tertarik
berjalan kaki di pedestrian dan warna pelangi yang dibuat memberikan kesan
ekspresif dan cerah. Warna pelangi juga melambangkan keberagaman yang tercemin
pada mahasiswa UKI yang beragam ras suku dan agama tanpa membuat batas antara
satu dengan yang lain nya.
Banner
Banner



01.13
Cristhover Hutapea



0 komentar:
Posting Komentar