Senin, 22 Januari 2018

EKONOMI KREATIF ''Penggunaan Material Payung Bekas sebagai Kanopi


E K O N O M I   K R E A T I F
“Penggunaan Material Payung Bekas sebagai Kanopi”


Dosen
Ir. Ramos Pasaribu, MT

Disusun Oleh
Andri Wenang ( 1454050003 )
Isanius Kogoya ( 1454050006 )
Cristhover ( 1454050020 )
Surya Peri Julian Harahap (1454050021)
Axel Jeremia ( 1154050004 )

PROGRAM STUDI ARSITEKTUR
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
2018


DAFTAR ISI
COVER ......................................................................................................................................
DAFTAR ISI ..............................................................................................................................
KATA PENGATAR ...................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................................... 1
1.1                Latar Belakang........................................................................................................... 1
1.2                Bentuk Objek Yang Diusulkan.................................................................................. 1
1.3                Sasaran Pengguna ..................................................................................................... 2
1.4                Manfaat Dan Tujuan ................................................................................................. 2
1.5                Proses Produksi dan Pelaksanaan ............................................................................. 2
1.6                Rencana Anggaran dan Biaya ................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN TEORI ....................................................................................................... 3
2.1       Ekonomi Kreatif ......................................................................................................... 3
2.1.1           Pengertian Ekonomi Kreatif ........................................................................... 3
2.1.2           Perkembangan Ekonomi Kreatif Di Indonesia ............................................... 4
2.1.3           Sub Sektor Industri Ekonomi Kreatif ............................................................. 5
2.2.       Kanopi ..................................................................................................................... 9
2.3        Payung ..................................................................................................................... 9
2.4        Pedestrian (Trotoar) ................................................................................................ 11
2.4.1    Pengertian ...................................................................................................... 11
2.4.2.   Penempatan Trotoar ....................................................................................... 11
2.4.3.   Lebar Trotoar ................................................................................................. 12
BAB III KONSEP
3.1 Konsep ............................................................................................................................ 13
3.1.1 Bentuk .......................................................................................................................... 13
3.1.2 Warna ........................................................................................................................... 15
BAB IV KESIMPULAN ...................................................................................................... 16
Kesimpulan ........................................................................................................................... 16
Lampiran

KATA PENGANTAR


Segala puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas Karunia dan kesempatan yang diberikan-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan kerja praktek dan sekaligus menyelesaikan makalah Kerja Praktek ini, dimana merupakan salah satu persyaratan akademik yang harus kami tempuh sebagai mahasiswa Fakultas Teknik Arsitektur di Universitas Kristen Indonesia.

Makalah Ekonomi Kreatif ini disusun berdasarkan hasil pengamatan di kampus UKI mengenai apa saja permasalahan yang ada kemudian membuat suatu solusi desain pada akhirnya. Dari solusi desain yang di dapat kemudian material yang digunakan memakai material – material bekas yang sudah tidak terpakai akan tetapi masih dapat digunakan kembali menjadi barang yang mempunyai nilai guna.

Di dalam menyusun makalah ini kami banyak mendapatkan bantuan baik moril maupun materil, dari teman – teman angakatan 2014 dan Pak Fadil untuk itu dalam kesempatan ini izinkan kami untuk mengucapkan terima-kasih banyak kepada keluarga yang tercinta yang telah memberikan doa dan semangat yang tiada henti serta materil dalam mendukung penulis selama kerja praktek.

Dukungan dari pihak berikut ini yang telah memberikan bimbingan maupun bantuan, maka dari itu kami mengucapkan terima-kasih banyak kepada :
1.      Bapak  Ramos Pasaribu ST, MT selaku dosen pembimbing kerja praktek.
2.      Bapak Fadilah
3.      Angkatan 2014.



  
Jakarta 22 Januari 2018


PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Saat ini pendestrian pejalan kaki di Jakarta sangatlah jarang kita temui yang dilengkapi dengan fasilitas yang nyaman yang terhindar dari panas dan hujan. Salah satu fasilitas pendestrian yang akan kita desain adalah sebuah canopy.
Canopy akan kami desain untuk pendestrian depan FT UKI. Namun, konsep ini juga dapat dilakukan dalam bentuk sederhana, salah satunya adalah penggunaan material Payung bekas, Ban Bekas Dan botol Bekas sebagai alat peneduh yang unik. Selain bertujuan untuk meneduhkan diri dari hujan maupun panas, material payung bekas yang kami gunakan membuat suasanan yang baru pada Pendestrian tersebut. Maka dari itu dalam paper ini, Kita akan menjelaskan satu elemen yang akan digunakan untuk membuat fasilitas canopy di pendestrian depan FT UKI menggunakan Material Payung Bekas, Botol Bekas dan Ban Bekas.
Kita memilih botol plastik bekas karena di kota saat ini, botol plastik merupakan sampah yang paling banyak dan juga merupakan material yang sulit untuk diurai oleh alam. Oleh karena itu, demi mengurangi sampah botol plastik yang tidak baik untuk alam, penulis akan membuat botol plastik yang biasanya langsung dibuang ketika sudah selesai diminum menjadi lebih berguna, Juga Kita memilih payung bekas karna salah satu anggota kami mempunyai payung bekas yang nantinya akan digunakan untuk membuat canopy berwarna ini DanKita Memilih Ban Bekas Karna Kita Tahu bahwa Material ini sering dibuang secara Cuma-Cuma dibengkel-bengkel maupun dipinggir jalan.
Caranya agar payung, Ban dan botol bekas ini menjadi lebih berguna adalah membuat sebuah canopy yang unik di sepanjang jalan pendestrian depan FT UKI.
1.2.Bentuk Objek Yang Diusulkan
Objek Menggunakan Payung Bekas Yang Berwarna warni yang lalu difungsikan sebagaimana fungsinya namun dengan ide desain yang berbeda yang dapat menarik perhatian orang sekitar dan juga dapat difungsikan dengan cara yang unik.

1.3.Sasaran Pengguna
-          Dosen dan Staff UKI
-          Mahasiswa UKI
-          Warga sekitar UKI

1.4.Manfaat Dan Tujuan
Manfaat dan tujuan dari objek studi ekonomi kreatif ini guna untuk memenuhi kebutuhan dan kenyamanan orang berjalan kaki di pedestrian depan FT UKI dari panas dan hujan.

1.5. Proses Produksi dan Pelaksanaan
Exsplorasi teknologi : material (material sisa/daur ulang/sampah/yang tak terpakai).
·         -Bagaimana proses material didapat?
Mendapatkannya dari tempat barang bekas atau rumah kami yang mempunyai payung bekas
·         Bagaimana sifat/karakter material?
Tahan Air Dan Tahan Panas matahari
·         Bagaimana penampilan material sesuai idea?
Bisa Menarik, Nyaman,
·         Bagaimana konstruksi/pemasangannya?
Payung bekas berwarna warni dipreteli gagangnya, lalu ujung payung atas diikat dengan tali ke gagang payung, lalu gagang payung tersebut diikat ke Pipa yang lalu ditanamkan ke Ban bekas hingga Pipa tersebut masuk kedalam tanah.
·         Bagaimana pekerjaaan finishingnya?
Diberi sambungan antara payung dengan botol akua yang telah dibelah dua sebagai talang air.
·         Bagaimana Metode pelaksanaan/pembuatannya? (tenaga, usaha lain, material lainnya?).
Metode pembuatan dari payung bekas yang di buat menjadi fungsi yang bernilai lebih.
·         Tempat Pelaksanaan ?
Tempat Pelaksanaannya Akan ditempatkan dipedestrian depan FT UKI (Mulai Dari Pendestrian Tempat Parkir motor FT UKI) hingga pedestrian menuju Bangunan Lobby FT UKI

1.6.Rencana Anggaran dan Biaya
Studi rencana anggaran biaya dan Nilai objektif Pasar.
·         10.000/payung bekas, 5000/Ban Bekas, 1000/botol akua, dan 2000/gulungan tali.


BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Ekonomi Kreatif
2.1.1 Pengertian Ekonomi Kreatif
Ekonomi kreatif adalah Mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan stock of knowledge dari Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya. Struktur perekonomian dunia mengalami transformasi dengan cepat seiring dengan pertumbuhan ekonomi, dari yang tadinya berbasis Sumber Daya Alam (SDA) sekarang menjadi berbasis SDM, dari era pertanian ke era industri dan informasi. Alvin Toffler (1980) dalam teorinya melakukan pembagian gelombang peradaban ekonomi kedalam tiga gelombang. Gelombang pertama adalah gelombang ekonomi pertanian. Kedua, gelombang ekonomi industri. Ketiga adalah gelombang ekonomi informasi. Kemudian diprediksikan gelombang keempat yang merupakan gelombang ekonomi kreatif dengan berorientasi pada ide dan gagasan kreatif.
Menurut ahli ekonomi Paul Romer (1993), ide adalah barang ekonomi yang sangat penting, lebih penting dari objek yang ditekankan di kebanyakan model-model ekonomi. Di dunia dengan keterbatasan fisik ini, adanya penemuan ide-ide besar bersamaan dengan penemuan jutaan ide-ide kecil-lah yang membuat ekonomi tetap tumbuh. Ide adalah instruksi yang membuat kita mengkombinasikan sumber daya fisik yang penyusunannya terbatas menjadi lebih bernilai. Romer juga berpendapat bahwa suatu negara miskin karena masyarakatnya tidak mempunyai akses pada ide yang digunakan dalam perindustrian nasional untuk menghasilkan nilai ekonomi.
Howkins (2001) dalam bukunya The Creative Economy menemukan kehadiran gelombang ekonomi kreatif setelah menyadari pertama kali pada tahun 1996 ekspor karya hak cipta Amerika Serikat mempunyai nilai penjualan sebesar US$ 60,18 miliar yang jauh melampaui ekspor sektor lainnya seperti otomotif, pertanian, dan pesawat. Menurut Howkins ekonomi baru telah muncul seputar industri kreatif yang dikendalikan oleh hukum kekayaan intelektual seperti paten, hak cipta, merek, royalti dan desain. Ekonomi kreatif merupakan pengembangan konsep berdasarkan aset kreatif yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi. (Dos Santos, 2007).
Konsep Ekonomi Kreatif ini semakin mendapat perhatian utama di banyak negara karena ternyata dapat memberikan kontribusi nyata terhadap perekonomian. Di Indonesia, gaung Ekonomi Kreatif mulai terdengar saat pemerintah mencari cara untuk meningkatkan daya saing produk nasional dalam menghadapi pasar global. Pemerintah melalui Departemen Perdagangan yang bekerja sama dengan Departemen Perindustrian dan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) serta didukung oleh KADIN kemudian membentuk tim Indonesia Design Power 2006 2010 yang bertujuan untuk menempatkan produk Indonesia menjadi produk yang dapat diterima di pasar internasional namun tetap memiliki karakter nasional. Setelah menyadari akan besarnya kontribusi ekonomi kreatif terhadap negara maka pemerintah selanjutnya melakukan studi yang lebih intensif dan meluncurkan cetak biru pengembangan ekonomi kreatif.

2.1.2. Perkembangan Ekonomi Kreatif Di Indonesia
Dimulai pada tahun 2006 di mana Presiden Susilo Bambang Yudhoyonomenginstruksikan untuk mengembangkan ekonomi kreatif di Indonesia. Proses pengembangan ini diwujudkan pertama kali dengan pembentukan Indonesian Design Power oleh Departemen Perdagangan untuk membantu pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia. Pada tahun 2007 dilakukan peluncuran Studi Pemetaan Kontribusi Industri Kreatif Indonesia 2007 padaTrade Expo Indonesia.
Pada tahun 2008, dilakukan peluncuran Cetak Biru Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2025 dan Cetak Biru Pengembangan 14 Subsektor Industri Kreatif Indonesia. Selain itu, dilakukan pencanangan tahun Indonesia Kreatif2009. Untuk mewujudkan Indonesia Kreatif, tahun 2009 diadakan Pekan Produk Kreatif dan Pameran Ekonomi Kreatif ysng berlangsung setiap tahunnya.
Alasan mengapa Indonesia perlu mengembangkan ekonomi kreatif antara lain karena ekonomi kreatif berpotensi besar dalam: Memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan; Menciptakan Iklim bisnis yang positif; Membangun citra dan identitas bangsa; Mengembangkan ekonomi berbasis kepada sumber daya yang terbarukan; Menciptakan inovasi dan kreativitas yang merupakan keunggulan kompetitif suatu bangsa; Memberikan dampak sosial yang positif.
Ada alasan lain mengapa indonesia menggunakan sistem ekonomi kreatif  Ternyata, tersimpan ribuan bahkan jutaan potensi produk kreatif yang layak dikembangkan di Tanah Air. Tengok saja potensi itu: sekitar 17.500 pulau, 400 suku bangsa, lebih dari 740 etnis (di Papua saja 270 kelompok etnis), budaya, bahasa, agama dan kondisi sosial-ekonomi.
Nilai-nilai budaya luhur (cultural heritage) yang kental terwarisi, seperti teknologi tinggi pembangunan Borobudur, batik, songket, wayang, pencak silat, dan seni budaya lain, menjadi aset bangsa. Tercatat pula, tujuh lokasi di Indonesia yang dijadikan situs pusaka dunia (world heritage site).
Belum lagi tingkat keragaman hayati (biodiversity) yang sukar ditandingi. Begitu banyak spesies yang khas dan tak dapat dijumpai di wilayah lain di dunia, seperti komodo, orang utan, cendrawasih. Tak ketinggalan, hasil budidaya rempah-rempah, seperti cengkeh, lada, pala, jahe, kayumanis, dan kunyit.
Semua itu bila diarahkan menjadi industri ekonomi kreatif, tentu membuahkan hasil luar biasa. Apalagi, era saat ini mengarah pada ekonomi kreatif, setelah era gelombang pertanian, gelombang industri, dan gelombang informasi, seperti teori Alvin Toffler.
2.1.3 Sub Sektor Industri Ekonomi Kreatif
Industri kreatif dapat dikelompokkan menjadi 14 subsektor. Menurut Departemen Perdagangan Republik Indonesia dalam buku Pengembangan Industri Kreatif Menuju Visi Ekonomi Kreatif 2025, ke 14 subsektor industri kreatif Indonesia adalah :
1. Periklanan (advertising)
Kegiatan kreatif yang berkaitan jasa periklanan (komunikasi satu arah dengan menggunakan medium tertentu), yang meliputi proses kreasi, produksi dan distribusi dari iklan yang dihasilkan, misalnya: perencanaan komunikasi iklan, iklan luar ruang, produksi material iklan, promosi, kampanye relasi publik, tampilan iklan di media cetak (surat kabar, majalah) dan elektronik (televisi dan radio), pemasangan berbagai poster dan gambar, penyebaran selebaran, pamflet, edaran, brosur dan reklame sejenis, distribusi dan delivery advertising materials atausamples, serta penyewaan kolom untuk iklan
2. Arsitektur
           Definisi jasa arsitektur menurut Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2005 adalah jasa konsultasi arsitek, yaitu mencakup usaha seperti: desain bangunan, pengawasan konstruksi, perencanaan kota, dan sebagainya. Selain itu sub-sektor Arsitektur Yaitu kegiatan kreatif yang berkaitan dengan desain bangunan secara menyeluruh baik dari level makro (town planning, urban designlandscape architecture) sampai level mikro (detail konstruksi). Misalnya arsitektur taman, perencanaan kota, perencanaan biaya konstruksi, konservasi bangunan warisan, pengawasan konstruksi, perencanaan kota, konsultasi kegiatan teknik dan rekayasa seperti bangunan sipil dan rekayasa mekanika dan elektrikal.
3. Pasar Barang Seni
Yaitu kegiatan kreatif yang berkaitan dengan perdagangan barang-barang asli, unik dan langka serta memiliki nilai estetika seni yang tinggi melalui lelang, galeri, toko, pasar swalayan, pasar tradisional dan internet, meliputi barang-barang musik, percetakan, kerajinan, automobile, dan film. 
4. Kerajinan (craft)
            Industri Kreatif subsektor kerajinan adalah kegiatan kreatif yang berkaitan dengan kreasi, produksi dan distribusi produk yang dibuat dan dihasilkan oleh tenaga pengrajin yang berawal dari desain awal sampai dengan proses penyelesaian produknya, antara lain meliputi barang kerajinan yang terbuat dari: batu berharga, serat alam maupun buatan, kulit, rotan, bambu, kayu, logam (emas, perak, tembaga, perunggu, besi) kayu, kaca, porselin, kain, marmer, tanah liat, dan kapur. Berdasarkan bahan baku (raw material), produk kerajinan dikategorikan menjadi:
1. Ceramic (seperti tanah liat, erathen warepotterystonewareporcelain)
2. Logam (seperti emas, perak, perunggu, besi, tembaga)
3. Natural fiber, serat alam (bambu, akar-akaran, rotan)
4. Batu-batuan (seperti batu mulia, semi precious stone, jade)    
5. Desain
           Yaitu kegiatan kreatif yang terkait dengan kreasi desain grafis, desain interior, desain produk, desain industri, konsultasi identitas perusahaan dan jasa riset pemasaran serta produksi kemasan dan jasa pengepakan. Contohnya : kerajinan perak
6. Fesyen (fashion)
Industri Kreatif Subsektor fesyen/mode adalah kegiatan kreatif yang terkait dengan kreasi desain pakaian, desain alas kaki, dan desain aksesoris mode lainnya, produksi pakaian mode dan aksesorisnya, konsultansi lini produk fesyen, serta distribusi produk fesyen.
 7. Video, Film dan Fotografi
            Industri Kreatif Subsektor film, video, dan fotografi adalah kegiatan kreatif yang terkait dengan kreasi, produksi video, film, dan jasa fotografi, serta distribusi rekaman video, film dan hasil fotografi. Termasuk di dalamnya penulisan skrip, dubbing film, sinematografi, sinetron, dan eksibisi film.


 8. Permainan Interaktif (game)
 Industri Kreatif sub sektor permainan interaktif adalah kegiatan kreatif yang berkaitan dengan kreasi, produksi, dan distribusi permainan komputer dan video yang bersifat hiburan, ketangkasan, dan edukasi. Sub sektor permainan interaktif bukan didominasi sebagai hiburan semata-mata tetapi juga sebagai alat bantu pembelajaran atau edukasi. Menurut beberapa sumber, industri permainan interaktif didefinisikan sebagai permainan yang memiliki kriteria sebagai berikut:
a. Berbasis elektronik baik berupa aplikasi software pada komputer (online maupun stand alone), console(Playstation, XBOX, Nitendo dll), mobile handset dan arcade.
 b. Bersifat menyenangkan (fun) dan memiliki unsur kompetisi (competition)
 c. Memberikan feedback/interaksi kepada pemain, baik antar pemain atau pemain dengan alat (device)
d. Memiliki tujuan atau dapat membawa satu atau lebih konten atau muatan. Pesan yang disampaikan bervariasi misalnya unsur edukasi, entertainment, promosi produk (advertisement) sampai kepada pesan yang destruktif.
 9. Musik
Industri Kreatif sub sektor musik adalah kegiatan kreatif yang berkaitan dengan kreasi/komposisi, pertunjukan musik, reproduksi, dan distribusi dari rekaman suara. Seiring dengan perkembangan industri musik ini yang tumbuh sedemikian pesatnya, maka Klasifikasi Baku Lapangan Indonesia 2005 (KBLI) perlu dikaji ulang, yaitu terkait dengan pemisahan lapangan usaha distribusi reproduksi media rekaman, manajemen-representasi-promosi (agensi) musik, jasa komposer, jasa pencipta lagu dan jasa penyanyi menjadi suatu kelompok lapangan usaha sendiri.
10. Seni Pertunjukan (showbiz)
Industri Kreatif kelompok seni pertunjukan meliputi kegiatan kreatif yang berkaitan dengan usaha yang berkaitan dengan pengembangan konten, produksi pertunjukan, pertunjukan balet, tarian tradisional, tarian kontemporer, drama, musik-tradisional, musik-teater, opera, termasuk tur musik etnik, desain dan pembuatan busana pertunjukan, tata panggung, dan tata pencahayaan.
11. Penerbitan dan Percetakan
Industri Kreatif subsektor penerbitan dan percetakan meliputi kegiatan kreatif yang terkait dengan penulisan konten dan penerbitan buku, jurnal, koran, majalah, tabloid, dan konten digital serta kegiatan kantor berita.

12. Layanan Komputer dan Piranti Lunak (software)
Industri Kreatif sub sektor layanan komputer dan piranti lunak meliputi kegiatan kreatif yang terkait dengan pengembangan teknologi informasi termasuk jasa layanan komputer, pengembangan piranti lunak, integrasi sistem, desain dan analisis sistem, desain arsitektur piranti lunak, desain prasarana piranti lunak dan piranti keras, serta desain portal.

13. Televisi & Radio (broadcasting)
Industri Kreatif kelompok televisi dan radio meliputi kegiatan kreatif yang berkaitan dengan usaha kreasi, produksi dan pengemasan, penyiaran, dan transmisi televisi dan radio.

14. Riset dan Pengembangan (R&D)
Industri Kreatif subsektor riset dan pengembangan meliputi kegiatan kreatif yang terkait dengan usaha inovatif yang menawarkan penemuan ilmu dan teknologi dan penerapan ilmu dan pengetahuan tersebut untuk perbaikan produk dan kreasi produk baru, proses baru, material baru, alat baru, metode baru, dan teknologi baru yang dapat memenuhi kebutuhan pasar. Akan tetapi, definisi riset dan pengembangan tersebut menurut masukan dari beberapa sumber dipandang belum cukup merefleksikan aktivitas riset dan pengembangan yang sesungguhnya. Definisi dari komoditi riset dan pengembangan mempunyai landasan regulasi sendiri yaitu UU No. 18 tahun 2002. Definisi riset dan pengembangan menurut UU No. 18/2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi adalah: Penelitian adalah kegiatan yang dilakukan menurut kaidah dan metode ilmiah secara sistematis untuk memperoleh informasi, data, dan keterangan yang berkaitan dengan pemahaman dan pembuktian kebenaran atau ketidakbenaran suatu asumsi dan/atau hipotesis di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta menarik kesimpulan ilmiah bagi keperluan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengembangan adalah kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bertujuan memanfaatkan kaidah dan teori ilmu pengetahuan yang telah terbukti kebenarannya untuk meningkatkan fungsi, manfaat, dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada, atau menghasilkan teknologi baru. Dalam hal ini, perlu untuk melakukan penyamaan persepsi mengenai definisi ini. 




2.2 Kanopi
Kanopi bila dilihat dalam pengertian menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti tirai atau langit-langit dari terpal, kain, logam, dsb pada teras terdapat — bertiang sebagai pemisah halaman dengan bagian dalam rumah.
Dalam dunia biologi, istilah kanopi bahkan sangat dikenal bagi siapapun yang punya hobi keluar masuk hutan. Di hutan hujan tropis, kebanyakan kehidupan tumbuhan dan hewan tidak ditemukan di permukaan tanah (forest floor), tapi bisa ditemukan pada dunia dedaunan yang dikenal dengan nama kanopi. Kanopi yang bisa berada pada ketinggian 100 kaki (30 meter) dari atas tanah terbentuk oleh cabang-cabang dan deedaunan pohon-pohon hutan yang saling tumpang tindih. Kanopi ini jugalah yang membuat cahaya matahari sulit menembus hutan hujan tropis, yang selalu terjaga kelembabannya.
Pada abat pertengahan pun, kata canope (Perancis) dan canopeum (Latin) erat kaitannya dengan tempat tidur bertiang empat dengan tirai atau kain yang menutupi bagian atas serta samping. Selain berfungsi untuk memberi kehangatan, tirai-tirai ini juga berguna untuk menjaga dari angin, melindungi dari benda yang jatuh dari atas, bahkan berfungsi untuk memberikan privasi bagi penggunanya.
Dengan beberapa pengertian tersebut, jelaslah bahwa istilah kanopi yang digunakan dalam arsitektur saat ini merupakan sejenis atap untuk melindungi bagian luar rumah dari panas matahari dan terpaan hujan. Kanopi dalam perkembangannya kini marak digunakan pada bagian garasi mobil dan balkon rumah, kantor dan bangunan lainnya.
Kehadiran kanopi selain untuk fungsi melindungi, juga menjadi bagian tak terpisahkan dari keindahan desain sebuah bangunan. Kini beragam model dan jenis kanopi sudah bisa ditemukan. Bahan pembuat kanopi pun mulai bervariasi, sehingga mudah dipilih sesuai selera dan kebutuhan seperti bahan genting, bahan sirap (kayu), vinil, polikarbonat, kain, plastik, dak beton, seng, dan fiber semen.
2.3 Payung
Payung adalah suatu benda pegang yang digunakan untuk mencegah hujan mengguyur tubuh seseorang. Juga digunakan untuk menciptakan bayang-bayang dan mencegah terpaparnya orang oleh sinar matahari. Payung yang digunakan untuk menahan cahaya matahari disebut parasol.
Payung atau umbrella dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa latin "umbra", yang berarti bayang-bayang. Saat ditemukan pada 4 ribu tahun lalu, awalnya payung kuno didesain khusus hanya untuk melindungi sang pemakai dari terik panas matahari. Sampai akhirnya bangsa China berhasil membuat payung yang berfungsi juga sebagai pelindung terhadap hujan. Mereka berhasil memanfaatkan lilin dan lak sebagai pelapis kertas agar payung itu antiair.
Pada abad ke-16, keberadaan payung menjadi populer terutama di negara-negara Eropa Utara yang memang kerap sekali turun hujan. Semula payung hanya dianggap sebagai aksesoris kaum wanita. Lalu seorang petualang dan penulis Persia, Jonas Hanway (1712 - 1786), dengan percaya diri sering membawa payung di depan publik, sehingga menggoda keberadaan payung untuk dipakai juga oleh pria. Begitu populernya payung sehingga para pria di Inggris menyebut payung itu sebagai "teman jalan".
Gambar Bagian bagian dari payung

Payung-payung generasi awal di Eropa dibuat dari kayu atau tulang ikan paus dan ditutup kain kanvas yang diberi minyak. Sebagai penarik diberi sentuhan seni dengan gambar warna-warni dan gagang yang melengkung terbuat dari kayu keras, macam kayu eboni, dan sebagainya. Sampai akhirnya pada tahun 1852, Samuel Fox menemukan rangka besi guna menyangga kain payung. Sejak saat itu selanjutnya teknik desain payung lebih terfokus pada cara bagaimana menemukan teknologi menutup atau melipat payung itu agar lebih praktis saat dibawa.



2.4 Pedestrian (Trotoar)
2.4.1 Pengertian
Trotoar adalah jalur pejalan kaki yang umumnya sejajar dengan jalan dan lebih tinggi dari permukaan perkerasan jalan untuk menjamin keamanan pejalan kaki yang bersangkutan. Menurut keputusan Direktur Jenderal Bina Marga No.76/KPTS/Db/1999 tanggal 20 Desember 1999 yang dimaksud dengan trotoar adalah bagian dari jalan raya yang khusus disediakan untuk pejalan kaki yang terletak didaerah manfaat jalan, yang diberi lapisan permukaan dengan elevasi yang lebih tinggi dari permukaan perkerasan jalan, dan pada umumnya sejajar dengan jalur lalu lintas kendaraan.
Para pejalan kaki berada pada posisi yang lemah jika mereka bercampur dengan kendaraan, maka mereka akan memperlambat arus lalu lintas. Oleh karena itu, salah satu tujuan utama dari manajemen lalu lintas adalah berusaha untuk memisahkan pejalan kaki dari arus kendaraan bermotor, tanpa menimbulkan gangguan-gangguan yang besar terhadap aksesibilitas dengan pembangunan trotoar.
Perlu tidaknya trotoar dapat diidentifikasikan oleh volume para pejalan kaki yang berjalan dijalan, tingkat kecelakaan antara kendaraan dengan pejalan kaki dan pengaduan/permintaan masyarakat.
2.4.2.Penempatan Trotoar
Fasilitas pejalan kaki berupa trotoar ditempatkan di:
1.     Daerah perkotaan secara umum yang tingkat kepadatan penduduknya tinggi
2.     Jalan yang memiliki rute angkutan umum yang tetap
3.     Daerah yang memiliki aktivitas kontinyu yang tinggi, seperti misalnya jalan-jalan di pasar dan pusat perkotaaan
4.     Lokasi yang memiliki kebutuhan/permintaan yang tinggi dengan periode yang pendek, seperti misalnya stasiun-stasiun bis dan kereta apisekolahrumah sakit, lapangan olah raga
5.     Lokasi yang mempunyai permintaan yang tinggi untuk hari-hari tertentu, misalnya lapangan/gelanggang olah raga, masjid

Trotoar sedapat mungkin ditempatkan pada sisi dalam saluran Drainase yang telah ditutup dengan pelat beton yang memenuhi syarat. Trotoar pada perhentian Bus harus ditempatkan berdampingan/sejajar dengan jalur Bus. Trotoar dapat ditempatkan di depan atau di belakang halte.
2.4.3. Lebar Trotoar
Sesuai dengan penggunaan lahan, lebar minimun Trotoar yaitu :
No
Penggunaan Lahan
Lebar Minimum
(m)
1
Perumahan
1,5
2
Perkantoran
2,0
3
Industri
2,0
4
Sekolah
2,0
5
Perumahan
2,0
6
Terminal/Stop Bus
2,0
7
Pertokoan/Perbelanjaan
2,0
8
Jembatan/Terowongan
1,0






BAB III
PEMBAHASAN
3.1       Konsep
Konsep yang dibuat sebagai Kanopi adalah konsep sustainable design, dengan menggunakan material utama payung bekas menjadi sebuah Kanopi yang diterapkan pada Pedestrian di depan FT UKI untuk melindungi dari panas sinar matahari dan hujan. Kanopi ini akan dibuat berjajar sepanjang pedestrian Parkir Motor FT UKI Menuju Bangunan Lobby FT UKI.
Gambar. Tampak Atas       
a.       Bentuk
Payung bekas dibuat Payung bekas berwarna warni dipreteli gagangnya, lalu ujung payung atas diikat dengan tali ke gagang payung, lalu gagang payung tersebut diikat ke Pipa Yang sudah ditanamkan ke ban bekas hingga menyentuh tanah. Diberi sambungan antara payung dengan botol aqua yang telah dibelah dua sebagai talang air. Metode pembuatan dari payung bekas yang di buat menjadi fungsi yang bernilai lebih.
Gambar. Perspektif
b.      Warna
Pelangi itu mempunyai filosofi yang bisa memberikan pelajaran bagi diri kita. Pelajaran berharga tentang keberagaman dan kesatuan antara berbagai perbedaan. Pelangi memiliki banyak warna hanya saja karena kita dari kecil sudah mendengarkan lagu tentang pelangi yang mengungkapkan bahwa pelangi itu warnanya adalah merah, kuning, hijau di langit yang biru. Begitulah kiranya warna pelangi yang sering kita lihat. Pelangi nampak indah dengan beberapa warna yang dimilikinya. Warna-warna itu tampak berpadu, bukan saling mengalahkan antar satu warna dengan warna yang lain. Hal itu mengajarkan pada kita bahwa hidup ini harusnya mau menerima berbagai perbedaan. Dengan perbedaan itulah malah hidup bisa menjadi indah. Kita harus menerima berbagai keberagaman, dengan keberagaman itu bisa dipadukan agar membentuk sebuah kebhinekaan yang nampak harmoni.
Kesimpulan nya warna pelangi mengajarkan kita arti perbedaan dan keberagaman, begitu juga yang terdapat di UKI dengan beragam ras agama dan budaya mahasiswa nya. Pelangi coba mengajarkan kita arti toleransi dan saling menerima berbagai perbedaan.
Gambar. Potongan


BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan

            Mata kuliah Ekonomi Kreatif  mengajarkan bagaimana mahasiswa dapat menggunakan kembali barang yang tadi nya tidak terpakai menjadi barang yang punya nilai guna.  Pada permasalahan yang ada di Kampus UKI, Cawang kami mencoba membuat  alternatif design Kanopi untuk sebuah Pedestrian dengan memikirkan bagaimana agar pejalan kaki merasa nyaman, terhindar dari panas dan hujan. Design yang dibuat pada kanopi dibuat semenarik mungkin agar pejalan kaki lebih tertarik berjalan kaki di pedestrian dan warna pelangi yang dibuat memberikan kesan ekspresif dan cerah. Warna pelangi juga melambangkan keberagaman yang tercemin pada mahasiswa UKI yang beragam ras suku dan agama tanpa membuat batas antara satu dengan yang lain nya.




Banner











    




 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Online Project management